Fenomena “Ngepop” pada Desain Grafis Indonesia

Fenomena “Ngepop” pada Desain Grafis Indonesia

Desain grafis di Indonesia sekarang ini sudah banyak mengalami kemajuan. Dimulai dengan munculnya sekolah sekolah grafis karena banyaknya minat untuk masuk ke dunia itu. Selain itu desain grafis juga memunculkan suatu aliran baru yang kemudian hasilnya disebut dengan desain ngepop.

Desain yang ngepop seringkali kita temui sekarang ini dalam majalah majalah remaja. Hal itu dimungkinkan oleh khlayak atau pembaca mereka kebanyakan anak muda yang memang suka gaya desain ngepop ketimbang dengan majalah yang memakai gaya desain biasa saja. Selain faktor tersebut, kebanyakan dari para desainer kita sekarang memang lahir dari budaya ngepop. Hal itu memang tidak bisa kita pungkiri. Untuk di Indonesia saja sebenarnya banyak sekali aliran desain grafis, namun ketika mau memasuki milenium ke dua, mereka yang jenuh dengan desain desain “jadul” banyak yang beralih ke desain modern. Diantaranya budaya ngepop ini.

Banyaknya pendapat tentang sama tidaknya desain ngepop dengan pop art memang membingungkan. Hal itu karena ngepop juga dimaksudkan yang sedang popular saat ini sedangkan pop art adalah kependekan dari popular art. Pop Art cenderung ke arah seni yang didapat atau muncul karena saat itu art saat itu lebih cenderung ke arah essensi, abstrak dan susah sekali dilihat bila memang bukan dari kalangan berada. Sedang budaya ngepop atau desain ngepop cenderung mengarah dengan apa yang terjadi atau sedang trend saat ini. Namun banyak juga yang mengartikan desain ngepop merupakan bagian atau perkembangan dari pop art

Pop Art.

Pop art menurut ”Britannica Ensiclopedia” berkembang awal tahun 60-an, tokohnya antara lain Andy Warhol, Roy Lichtenstein, Claes Oldenburg dan Robert Indiana. Pop art sendiri merupakan karakter penggambaran semua aspek dari kebudayaan populer yang memberikan dampak yang kuat dari kehidupan kontemporer. Ikonografi yang dipakai diambil dari televisi, buku komik, majalah film, dan semua bentuk advertising yang disampaikan secara empati dan objektif tanpa memuja atau penghukuman tetapi dengan menunjukkan kesegaran dalam arti tetap menunjukkan ketepatan teknik komersial yang dipakai media dari ikonografi yang dipinjam.

Selain itu, gerakan pop art merupakan upaya untuk kembali lebih objektif dan umum dalam menerima karya seni. Pada saat itu, ada dominasi seniman abstrak ekspresionis Amerika dan Eropa. Gerakan ini sekaligus merupakan penentangan dan penolakan pada supremasi seni tinggi dan seni avant-garde. Jadi pop art merupakan refleksi dari faktor sosial dan situasi yang dihadapi masyarakatyang secara mudah dan cepat dieksploitasi media massa.

Walaupun kritik terhadap pop art, sebagai seni yang vulgar, sensasional, tanpa estetika atau sekadar joke, tetap diakui dan mendapat dukungan dalam dunia seni sebagai bagian dari demokrasi dan gerakan tanpa diskriminasi. Sehingga, pop art menjadi seni kebersamaan pandangan, baik oleh pengamat seni maupun orang yang tidak mengerti apa itu seni. Pop art sendiri merupakan keturunan dari dada, yaitu gerakan nihilisme di tahun 1920, di mana semangatnya adalah perlawanan kontemporer terhadap seriusnya dominasi parisia art.

Dedengkot pop art Amerika Andy Warhol membuat repetisi foto artis Marilyn Monroe dengan teknik cetak silk screen, hasilnya wajah artis legendaris Hollywood itu mucul dalam berbagai warna yang tidak sesuai dengan aslinya. Itu saja Andy juga masuk ke dalam berbagai media ekspresi, termasuk ke video dan terbukti kemudian, walau dia mengambil ikonografi dari media iklan saat itu, karyanya menjadi inspirasi karya grafis untuk iklan puluhan tahun kemudian.

Logikanya gampang, Pop Art itu berasal dari kata Popular Art. Jadi pop art itu menyesuaikan trend yang sedang berkembang. Pop Art cenderung
minimalism dan mudah dicerna atau dikonsumsi sesuai dengan karakter “populer” yang massive. Makanya dalam perkembangannya, Pop Art terutama di Amrik, lebih cenderung komersil namun terjangkau”, ucap Anung yang merupakan salah satu desainer yang dimiliki oleh Kota gudeg Jogjakarta itu.

Menurut desainer yang dulunya juga pernah mengajar di D3 Komunikasi jurusan Advertising Universitas Gadjah Mada ini, Graffiti/bombing, retro, kalo disesuaikan dengan perkembangannya saat ini bisa dikatakan masuk pop-art. ”Tapi kalo untuk distro, kita harus melihat dari sisi mana dulu, distro definisi Indonesia atau distro definisi luar dulu, kalau diIndonesia banyak yang salah kaprah mengartikan distro. Kalo di barat distro itu jualan merk-merk ‘underground’ dengan harga murah banget, tidak terpengaruh trend desain, tapi di indonesia sebaliknya, distro malah jadi barometer trend anak muda. Jadi kalo distro di indonesia bisa dikategorikan pop-art. Tapi di luar, distro itu bukan bagian dari budaya populer”.

Berbeda dengan Anung, Prianto Sunarto lebih setuju membedakan pop art dengan ngepop. Dosen senior DKV ITB ini lebih suka membedakan Pop Art dengan ngepop. ”Ngepop itu artinya berusaha menggunakan idiom idiom yang paling baru atau dikarenakan oleh lingkungannya”, tutur dosen yang juga mengajar di Institut kesenian Jakarta (IKJ) itu. Menurut beliau hal itu juga pernah terjadi di Bali beberapa waktu yang lalu. Waktu itu ada orang bikin topeng Pop Art, padahal itu dari secara termonologi, cuma orang boleh boleh saja bilang seperti itu, karena memang bukan seperti topeng tradisional, tapi kalau menurut pak Priayanto hal itu lebih ke ngepop. Kalau Pop Art mereka lebih filosofis. Sedangkan untuk ngepop lebih komersil.

Prianto menganggap Pop Art itu mengambil sesuatu yang ada di sekitarnya. seperti pada jaman generasinya, seperti mencuri papan lalu lintas untuk di pajang di ruang tahun, atau menganggap objek yang ada di sekitarnya seni. Untuk cirinya yaitu mengguanakan barang yang ada disekitarnya menjadi sebuah seni. ”kalau sudah memakai komputer, sudah bukan lagi disebut pop art”.

Ngepop

Budaya ngepop juga bisa diartikan dengan apa yang sedang trend saat ini. Masih ingat model rambut tahun 1990-an, dengan gaya rambut demi more, untuk sekarang hal itu sudah gak popular lagi. Kemudian sempat di hajar dengan gaya rambut model japanish style dengan Agnes Monika sebagai trendsetternya. Lalu dengan munculnya banyak band band indie yang sekarang malah mendominasi siaran siaran di radiao radio. Juga demam nonton “Empat Mata” nya si Tukul dengan kata katanya yang sekarang popular di semua kalangan, bahkan di kalangan Dewan Perwakilan Rakyat kita, dengan kata katanya “kembali ke laktop” Seperti itulah mungkin budaya popular bisa diartikan.

Ketika masuk dalam desain grafis kita tentu masih ingat dengan gambar gambar dengan warna ceria atau yang lebih sering dikatakan dengan desain gaya lollipop, lalu tak lama kemudian berganti dengan gaya vector art dengan gambar gambar orang yang dibuat seperti kartun, kemudian berubah lagi dengan gaya hip hop atau urban art, dan sekarang lebih ke gaya nge-grunge dengan japanish stylenya.

“kalau ngepop dasarnya desainer atau siapapun yang sedang menyamakan nsesuatu dari sesuatu yang sedang popular” , itulah yang dikatakan oleh pak Prianto ketika ditanyakan tentang definisi ngepop.

Budaya ngepop tak lepas dari peran media yang sangat besar dalam perkembangannya. Media yang selalu memberikan hal hal yang baru dan ikut membangun image ngepop tersebut. Masih ingat dengan acara Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Waktu itu kita dibuat seakan akan seperti ikut berpartisipasi didalamnya. Smapai sampai kalau ada jagoannya kalah banyak yang ikut menangis. Begitu kuatkah media memperngaruhi masyarakat, atau apakah medianya yang tahu karakter masyarakat waktu itu seperti itu. Setelah itu desain desain Indosia banyak yang keluar dengan gaya polkadotnya yang memang menjadi ikon di AFI.

Budaya ngepop ibarat juga sebagai mie instant yang mengenakan tapi tak punya gizi banyak, tidak bisa tahan lama kerena itu diberi bahan pengawet. Artinya jika ingin budaya itu kuat maka harus diberi pengawet. Ya seperti halnya AFI saat itu, media menggembar-ngemborkan kegiatnnya. Mulai bangun sampi tidur lagi. Masyarkatdicekoki oleh beragam hal yang berhubungan dengan segala kegiatan di AFI. Banyak juga pengikan pengikan besar ikut dalam gerakan itu. Sehingga bisa dijadikan ajang promosi gratis.Namun sekarang apa yang terjadi, AFI sekarang sudah nggak jamannya lagi, sekarang jamannya Indonesian Idol. Bahkan mungkin sebentar lagi Indonesian Idol juga udah ga jaman lagi. Seperti itulah budaya ngepop, datang dan perginya cepat sekali, tergantung oleh mood audiences.

Lalu media televisi juga ikut ikutan mengarah ke budaya ngepop ini. Seperti yang kita lihat pada logo SCTV dan Global TV. Kemungkinan mereka menggunakan logo yang baru karena target audiencenya kebanyakan anak muda, dan anak muda Indonesia sekarang cenderung suka pada budaya ngepop itu, dan itulah yang kemudian oleh stasiun televisi sering dimunculkan.

Banyaknya desain desain yang ngepop tersebut sepertinya malah membuat jatidiri atau style grafis seorang desainer mati. Karena desainer kebanyakan punya style style tersendiri dalam mengekspresikan karyanya. Namun orisinalitas yang dituangkan dalam desainnya sering kali di tolak oleh klien yang cenderung mengarah ke problem solving mereka. Para klien seakan tidak peduli dengan style yang dimilki oleh desainer atau perancang grafis ini. Bagi mereka desain yang bisa menjual produk mereka ya desain itulah yang akan mereka terima. Kejam bukan, tapi itulah yang ada dunia usaha saat ini. Karena tidak punya sesuatu untuk mengekspresikan jiwa desainnya kebanyakan dari mereka membuat suatu komunitas atau ajang pamer diri lewat internet. Dari situ mereka bisa menampilkan karya karya mereka sendiri, tanpa tujuan komersil. Dari situ mereka akan mendapat tanggapan dari sesama pelaku grafis, penikmat atau pemuja grafis, apakah desainnya bagus atau tidak.

Karena permintaan pasar atau sesuatu yang sedang trend sekarang grafis dari beberapa produk atau majalah cenderung sama atau bahkan menjimplak ke gaya desain yang memang menjadi trendsetter sekarang. Perlu diketahui desain yang popular sekarang kebanyakan dihasilkan olek Amerika, Inggris, dan sekarang jepang yang paling teranyar. Memang kalau disebut menjiplak sepenuhnya bukan, tapi usaha menggabung gabungkan atau malah memberi perubahan sedikit pada desain asliya. Lalu kenapa dengan desain asli Indonesia, apakah kita punya desain yang asli milik orang Indonesia.

Sepertiyang terjadi di Bandung. Menurut pak Prianto Bandung dari jaman Kartini memang berbeda dengan kotakota lain. Sebagai kota yng cosmopolitanbanyak hal yang bisa bercampur dengan apapun. Ketika dilihat seringnya ada kesamaankarya karya desainnya dengan gayagaya lainnya seoerti tidak terlihat. Tapi kalau hal seperti itu kelihatan di kota lain, seperti di jogja mungkin akan kelihatan

Sebuah fenomena itu muncul karena adanya sebab dan akibat, menjamurnya desain ngepop di Indonesia sekarang ini dimungkinkan masih adanya permintaan atau masih banyaknya masyarakat yang menyukainyai karena cenderung mengikutitrend yang sedang terjadi sekarang.

Terserah bagi anda ingin seperti apa, ingin ikut ikutan ngepopatau malah ingin mengeluarkan sesuatu yang baru. (Feridian Harudana “DJ”)

2 Comments

  1. Hehehe.. ternyata ga cuman budaya saja yg ngepop, desain juga bisa ngepop… :D

    OK sepakat, Say NO to POP… :))

  2. Hmm… nggak kelihatan contoh gambarnya ya…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Welcome to my Blog

    blog ini bercerita tentang apa yang saya lakukan selama ini, mulai dari tulisan, foto, design dan sebagainya. saya sangat mengaharapkan kritikan kritikan dari anda semua untuk membuat saya menjadi lebih baik lagi. Feridian
  • Categories

  • Blog Stats

    • 3,121 hits
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.